Jean Baudrillard: Dunia Simulasi dan hiperrealitas

Table of Contents

Jean Baudrillard
Biografi Jean Baudrillard

Jean Baudrillard lahir di Prancis, tepatnya di Kota Reims pada 27 Juli 1929. Baudrillard adalah seorang pakar teori kebudayaan, filsuf kontemporer, komentator politik, sosiolog, dan fotografer asal Prancis. Karya Baudrillard sering kali dikaitkan dengan pascamodernisme dan pascastrukturalisme.

Ia merupakan seorang teoritisi sosial pasca-struktural terpenting. Dalam lingkup dekade 1980-an, Baudrillard dikenal sebagai McLuhan baru atau teoritisi terkemuka tentang media dan masyarakat dalam era yang disebut juga pascamodern.

Teorinya mengenai masyarakat postmodern berdasarkan asumsi utama bahwa media, simulasi, dan apa yang ia sebut "cyberblitz" telah mengkonstitusi bidang pengalaman baru, tahapan sejarah, dan tipe masyarakat yang baru.

Gagasan teoritisnya tentang “hiperrealitas” dan “simulacrum” memengaruhi teori dan filsafat sastra, terutama di Amerika Serikat, dan menyebar ke dalam budaya populer .

Biografi dan Karyanya

Baudrillard lahir dalam keluarga miskin di Reims pada 20 Juni 1929 dan wafat 6 Juni 2007. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga petani yang kemudian pindah ke Paris dan bekerja sebagai pegawai di Dinas Pelayanan Masyarakat.

Keluarganya bukan berasal dari kelas borjuis yang berpendidikan tinggi. Bersama saudara-saudaranya, Baudrillard hidup dalam suasana keluarga petani urban yang sederhana.

Baudrillard mempelajari bahasa Jerman di Universitas Sorbonne di Paris dan mengajar bahasa Jerman di sebuah lycée (1958-1966). Ia juga pernah menjadi penerjemah dan terus melanjutkan studinya dalam bidang filsafat dan sosiologi.

Pada masa itu ia menerjemahkan karya sastra dan filsafat Jerman, dan menerbitkan esai dalam tinjauan sastra Les Temps Modernes. Pada tahun 1966 ia menyelesaikan tesis Ph.D-nya Le Système des objets ("Sistem Objek-objek") di bawah arahan Henri Lefebvre.

Baudrillard mengajar (1966–68) di departemen sosiologi di Nanterre, yang merupakan salah satu pusat pemberontakan mahasiswa Mei 1968, yang ia simpati. Ia kemudian pindah ke Universitas Paris IX (sekarang Universitas Paris di Dauphine), dari mana ia pensiun pada tahun 1987.

Karya awal Baudrillard—termasuk The System of Objects , La Société de consommation (1970; The Consumer Society), dan Pour une critique de l'économie politique du signe (1972; For a Critique of the Political Economy of the Sign ).

Karya tersebut menggabungkan ekonomi politik Marxis dan semiotika (teori tanda) yang dipengaruhi oleh Roland Barthes dalam kritik terhadap kehidupan sehari-hari dalam masyarakat konsumen, yang menurut Baudrillard, benda-benda memiliki nilai simbolis di samping nilai-nilai yang berasal dari penggunaan dan pertukaran Marxis. 

Baca Juga: Marxisme: Pengertian dan Pemikirannya

Dalam Le Miroir de la production; Atau, l'illusion critique du matérialisme historique (1973; The Mirror of Production) dan L'Échange symbolique et la mort (1976; Symbolic Exchange and Death ), Baudrillard memutuskan hubungan dengan Marxisme untuk mengembangkan sebuah penjelasan tentang masyarakat postmodern di mana citra konsumen dan elektronik telah menjadi lebih nyata (hiperreal) daripada realitas fisik dan di mana simulasi realitas (simulacra) telah menggantikan yang asli, hanya menyisakan "gurun realita."

Frasa ini dikutip dalam film fiksi ilmiah Amerika yang populer The Matrix (1999), yang tokoh utamanya menyembunyikan barang selundupan dalam sebuah salinan Simulacra and Simulation karya Baudrillard (yang aslinya diterbitkan sebagai Simulacres et simulation, 1981). Seorang fotografer ulung, Baudrillard menegaskan bahwa "setiap objek yang difoto hanyalah jejak yang ditinggalkan oleh hilangnya semua sisanya."

Di antara karya-karya besar Baudrillard lainnya adalah Oublier Foucault (1977; Forget Foucault ); Amérique (1986; America ), berdasarkan perjalanan ke Amerika Serikat; La Guerre du Golfe n'a pas eu lieu (1991; The Gulf War Did Not Take Place ); Jean Baudrillard: Photographies 1985–1998 (1999), kumpulan gambar dan esai terkaitnya; dan L'Esprit du terrorisme (2002; The Spirit of Terrorism: And Requiem for the Twin Towers). Edisi pertama The International Journal of Baudrillard Studies muncul pada awal tahun 2004.

Pemikiran Jean Baudrillard

Pada zaman yang berkelindan dengan kemajuan teknologi, media, serta praktik sosial baru di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Jean Baudrillard adalah mercusuar. Pemikiran sosial pasca modern telah menjadi topik yang semakin relevan dalam kajian ilmu sosial dan humaniora, terutama setelah kontribusi berpengaruh dari tokoh seperti Baudrillard.

Baudrillard, seorang filosof Prancis, dikenal dengan pemikirannya yang kontroversial dan provokatif, telah memainkan peran penting dalam merangsang diskusi tentang bagaimana masyarakat kita menghadapi era pasca modern.

Baudrillard adalah salah satu pemikir terkemuka dalam memahami perubahan dramatis dalam budaya dan masyarakat pasca modern. Baudrillard terkenal dengan teori simulasi, hiperrealitas, dan gagasannya paling awal tentang masyarakat konsumsi.

Pemikirannya merespons pergeseran paradigmatik dari modernitas ke pasca modernitas, di mana dunia tidak lagi dapat dipahami melalui kategori-kategori tradisional seperti realitas, kebenaran, atau identitas yang tetap.

Mengenai masyarakat konsumsi, ia berpendapat bahwa konsumsi bukan lagi tentang memenuhi kebutuhan, tetapi lebih tentang menciptakan identitas dan simbolisme.

Dalam masyarakat pasca modern, barang-barang dan layanan tidak hanya memiliki nilai ekonomis tetapi juga nilai simbolis yang kuat. Kita sering kali mengidentifikasi diri kita dengan apa yang kita konsumsi, menciptakan realitas baru yang didasarkan pada tanda-tanda dan citra.

Konsep penting lainnya dalam pemikiran Baudrillard adalah “simulasi”. Menurutnya, kita telah memasuki dunia di mana realitas telah digantikan oleh tanda-tanda, citra, dan simulasi. Sebagai contoh, media massa dan teknologi informasi telah menciptakan representasi yang semakin kompleks dan sulit untuk dibedakan dari kenyataan itu sendiri.

Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai “hiperrealitas”, di mana kita hidup dalam dunia yang terus menerus menyajikan kepada kita melalui gambar, citra, dan tanda-tanda yang tidak selalu memiliki referensi langsung dengan dunia nyata.

Karya awal Baudrillard muncul pada saat peran budaya bagi produksi dan perluasan masyarakat kapitalis mulai dirasakan di berbagai kalangan. Di sini Baudrillard berfokus pada cara-cara budaya, ideologi, dan tanda berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Penyelidikan awalnya berkisar pada eksplorasi masyarakat konsumen hingga studi tentang berbagai macam fenomena budaya dalam kehidupan sosial, terutama media, seni, seksualitas, mode, dan teknologi, yang dengan sendirinya menjadi bentuk-bentuk komodifikasi dan konsumsi. Perhatian Baudrillard pada budaya adalah tindakan yang kerapkali diabaikan oleh kaum marxis tradisional yang hanya berfokus pada domain sejarah, politik, dan ekonomi.

The System of Objects merupakan salah satu karya awal Baudrillard yang membentuk dasar bagi pemikirannya tentang simulasi, konsumsi, dan budaya: menggambarkan bagaimana objek-objek dapat menjadi bagian penting dari identitas individu. Kepemilikan dan pemilihan objek-objek tertentu dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan bagaimana orang lain memandangnya dalam masyarakat.

Dalam The Consumer Society Baudrillard mengidentifikasi masyarakat modern sebagai “masyarakat konsumsi”, di mana konsumsi barang dan jasa telah menjadi pusat penting dari kehidupan sosial dan budaya. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat ini didorong oleh produksi dan konsumsi berlebihan, yang menciptakan siklus tak berujung dari keinginan dan pemenuhan keinginan.

Sedangkan kaitan objek, tanda, dan ekonomi politik Baudrillard jelaskan melalui For a Critique of the Political Economy of the Sign. Ia berpendapat bahwa ekonomi modern dan politik sering kali didasarkan pada pertukaran tanda-tanda, dan bukan lagi pada pertukaran barang dan jasa. Dalam konteks ini, Baudrillard mengkritik pendekatan tradisional terhadap ekonomi politik yang hanya berfokus pada pertukaran barang; teori ekonomi politik harus memperhitungkan peran penting tanda-tanda dalam ekonomi modern.

The System of Objects dan The Consumer Society mengeksplorasi sistem objek-objek yang terstruktur dalam sebuah “masyarakat konsumen”. Sedangkan buku ketiganya, dan For a Critique of the Political Economy of the Sign mencoba untuk merekonstruksi ekonomi politik dan marxisme berdasarkan teori semiologi tanda.

Baudrillard mengklaim, komoditas tidak hanya dicirikan oleh nilai guna dan nilai tukar, seperti dalam teori Marx tentang komoditas, tetapi juga nilai tanda, gagasan pertukaran tanda yang dipahami sebagai pembelian sesuatu di luar kegunaan.

Dengan demikian, sistem-komoditas menjadi sistem-objek; serangkaian komoditas yang diubah dengan cara didesain dan dihargai karena nilai tanda di dalamnya, status, estetika, atau kemewahan.

Baudrillard di sini bekerja dalam kerangka marxis, berargumen bahwa konsumerisme baru ini telah menjadi bentuk utama dari kekuasaan kelas borjuis, namun tidak dengan cara yang sederhana dan langsung. Dari sini perlu dicatat bahwa Baudrillard memiliki hubungan yang ambivalen dengan marxisme klasik.

Di satu sisi, Baudrillard meneruskan kritik marxian terhadap produksi komoditas yang menggambarkan dominasi dan eksploitasi yang dihasilkan oleh kapitalisme. Di sisi lain, ia banyak melakukan kritik, tidak menyepakati dan tidak mengembangkan gagasan-gagasan utama marxian, seperti potensi kelas pekerja sebagai agen perubahan dalam masyarakat konsumen, teori pemberontakan kelas atau kelompok, serta teori organisasi politik dan perjuangan.

Tiga karya pertama Baudrillard dapat dibaca dalam kerangka kritik neo-marxian terhadap masyarakat kapitalis. Karena dalam buku-buku ini, khususnya dua karya awal, Baudrillard masih mengaitkan konsumsi dengan modus produksi, berfokus pada komoditas dan penggunaannya, dan terlibat dalam analisis kelas dan demistifikasi kritis terhadap ideologi-ideologi dominan tentang konsumsi. Sedangkan pada buku ketiganya, For a Critique of the Political Economy of the Sign, Baudrillard mulai mengkritik gagasan-gagasan marxian tertentu secara lebih agresif (Kellner, 1989).

Penekanan Baudrillard di sini terletak pada konsumsi dan produksi yang berfokus pada budaya dan tanda sebagai pelengkap penting bagi ekonomi politik Marxian klasik.

Pemutusan Diri dengan Marxis

Pada 1973 buku Baudrillard yang berjudul The Mirror of Production terbit dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1975. Karya ini menjadi tanda perpisahan Baudrillard dengan marxis, yang sebenarnya sedari buku ketiganya, For a Critique of the Political Economy of the Sign sudah ia isyaratkan (Kellner, 1989).

Dalam karya ini, Baudrillard melakukan penolakan besar-besaran dan serangan sistematis terhadap marxisme klasik, salah satunya dengan menyatakan bahwa marxisme hanyalah cermin masyarakat borjuis, menempatkan produksi sebagai pusat kehidupan, dan dengan demikian menaturalisasikan organisasi kapitalis dalam masyarakat (Hegarty, 2004).

Marxisme bagi Baudrillard tidak memberikan kritik yang cukup radikal terhadap masyarakat kapitalis dan wacana serta perspektif kritis alternatif. Baudrillard kemudian mengenalkan konsep “pertukaran simbolik”, yang ia bedakan dengan sistem ekonomi produksi kapitalis modern dan dengan gagasan materialisme historis, dialektika, moda produksi, dan tenaga kerja marxian.

Istilah “pertukaran simbolik” berasal dari gagasan Georges Bataille tentang “ekonomi umum” dan juga konsep Marcel Mauss tentang hadiah yang berlaku pada masyarakat pramodern atau primitif. Yaitu ketika pengeluaran, pemborosan, pesta, pengorbanan, dan penghancuran menjadi sistem ekonomi alamiah manusia terlepas dari ekonomi produksi, keuntungan moneter, dan ketentuan kapitalis tentang tenaga kerja, kegunaan, dan tabungan yang tidak alamiah.

Pada tahap pemikirannya ini, Baudrillard berdiri dalam tradisi Prancis yang mengagungkan budaya “primitif” atau pramodern atas rasionalisme abstrak dan utilitarianisme masyarakat modern.

Gagasan “pertukaran simbolik” Baudrillard upayakan untuk melawan bentuk-bentuk pengorganisasian pemikiran dan masyarakat modern dengan mengacu pada nilai-nilai lama. Ia menyerukan pemusnahan bentuk-bentuk produksi, kapitalisme, rasionalitas, dan makna yang menjadi wajah era modern.

Pertukaran simbolik dapat dijelaskan sebagai ekspresi dari keinginan untuk membebaskan diri dari posisi modern. Ia menolak filosofi sejarah marxian yang mengandaikan keutamaan produksi di semua masyarakat dan menolak konsep sosialisme marxian, dengan alasan bahwa konsep tersebut tidak cukup radikal dari produktivisme kapitalis, dan hanya menawarkan dirinya sebagai organisasi produksi yang lebih efisien dan adil daripada sebagai masyarakat yang sama sekali berbeda (Kellner, 1989).

Teks The Mirror of Production menyarankan bahwa ‘cermin marxisme’ harus dipatahkan, berhenti mendefinisikan analisis dan kemungkinan-kemungkinan pembacaan sosial melalui ‘kekuatan’ marxisme.

Pada 1976, buku Baudrillard Symbolic Exchange and Death terbit—diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1993. Karya ini mengawali gaya baru pemikiran Baudrillard, bergerak melampaui kritik awal terhadap ekonomi politik dan sketsa pertamanya mengenai teori sosial alternatif ke dalam pengembangan yang lebih sistematis dari gagasan barunya.

Buku ini merupakan salah satu karya terpenting Baudrillard. Buku ini muncul bersama karya-karya Levi-Strauss dan Michel Foucault dalam seri bergengsi penerbit Gallimard, Bibliotheque des Sciences Humaines (Baudrillard, 2017: 15).

Di sini gagasan Baudrillard melampaui pembahasan ekonomi politik dan menuju dunia baru dengan semiologi radikal, proliferasi dan penyebaran tanda yang tak henti-hentinya melalui media dan teknologi, mode yang terus berubah, dan beragam perwujudan baru, yang Kellner sebut sebagai “karnaval pasca modern” (Kellner, 1989).

Buku Symbolic Exchange and Death merupakan analisis awal Baudrillard pada dunia baru yang penuh simulasi, simulakra, dan hiperrealitas (Hegarty, 2004). Sebuah era baru di mana teknologi baru seperti media, model dan sistem kemudi sibernetik, komputer, pemrosesan informasi, industri hiburan, pengetahuan, dan seterusnya menggantikan produksi industri dan ekonomi politik sebagai prinsip pengorganisasian masyarakat.

Karya-karya Baudrillard setelahnya, seperti In the Shadow of the Silent Majorities (1978), Seduction (1979), Simulacra and Simulation (1981), Fatal Strategies (1983), membahas secara lebih mendalam tentang dunia baru yang tengah manusia hadapi.

Simulacra dan Simulasi      

Term simulakra secara harfiah dalam The Oxford English Dictionary berarti “aksi menirukan dengan maksud menipu”. Selanjutnya muncul pemahaman lain yakni penampilan palsu, tiruan dari sesuatu, atau sesuatu yang mirip. Konsep simulakra digunakan oleh Baudrillard untuk menjelaskan realitas dunia era postmodern.

Simulacra bukan sesuatu yang alami, yang naturalis. Simulacra lahir dari sistem teknologi, informasi dan globalisasi yang terus mengalami keberlanjutan. Simulakra lahir dalam tata dunia yang sudah dipenuhi dengan model-model dan game cybernetic yang memiliki fungsi operasional total.

Simulacra didirikan di atas dasar imitasi, citra, dan duplikasi dari sesuatu yang sudah ada. Yang sudah ada kemudian diduplikasi ulang sesuai dengan bentuknya yang asli. Proses lahirnya simulacra ini berlangsung dalam arena sosial masyarakat.

Dalam arena sosial masyarakat, konsekuensi logis hadirnya simulacra adalah terjadinya silang-sengkarut, terjadinya pembauran, terjadinya percampuran antara yang asli dan yang palsu, yang benar dan yang salah, yang fakta dan yang bukan fakta, yang riil dan yang imajiner, serta yang penanda dan yang petanda.

Akibatnya, masyarakat tanpa sadar berada dalam dua realitas yakni realitas yang riil dan realitas imitasi atau tiruan. Dua realitas ini hadir dalam ruang dan waktu. Sehingga, kadang kala masyarakat tidak mampu membedakan mana realitas yang riil dan mana realitas yang tiruan.

Simulacra dalam pemikiran Baudrillard terdiri atas tiga tingkat. Tiga tingkat simulakra ini hadir dengan ciri khasnya masing-masing. Keberadaan tiga tingkat simulakra ini berlangsung dalam rentang waktu yang lama yang disesuaikan dengan kondisi kemajuan masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

Medhy Aginta Hidayat dalam bukunya: Menggugat Modernisme Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard (2012), menjelaskan tiga tingkat simulakra ini sebagai berikut.
Simulacra Tingkat Pertama, dimulai sejak masa Renaisans-Feodal hingga permulaan Revolusi Industri. Di era ini, hukum alam dengan ciri ketertiban, keselarasan, hierarki alamiah dan bersifat transenden dipandang sebagai sebuah realitas yang sesungguhnya.

Tanda-tanda pada era ini  adalah tanda yang diproduksi berdasarkan keutuhan fakta dan citra secara  seimbang dan serasi. Prinsip simulasi pada tingkat pertama adalah representasi bahasa objek dan tanda adalah tiruan dari realitas yang alamiah yang dibentuk secara linear dan tunggal, yang mana representasi tersebut masih memiliki jarak dengan objek aslinya.

Simulakra Tingkat Kedua, dimulai bersamaan dengan Revolusi Industri. Revolusi industri memberikan efek positif bagi pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus di satu sisi memberikan efek negatif bagi kebudayaan. Prinsip utama simulasi pada era ini adalah logika produksi. Hal ini karena logika produksi melahirkan teknologi mekanik yang sifatnya telah melewati ambang batas realitas.

Baudrillard berpendapat objek-objek alamiah telah kehilangan sifat transendensi yang diakibatkan reproduksi teknologi. Oleh karena itu, objek kini bukan lagi tiruan dari objek asli, melainkan sama persis dengan yang asli.

Simulacra Tingkat Ketiga, di tingkat ini, segala unsur kebudayaan mengalami perubahan mendasar. Perubahan itu berakar pada perkembangan ilmu dan teknologi informasi, komunikasi global, media masa, konsumerisme dan kapitalis di era pasca Perang Dunia II.

Karena itu, tanda, citra, kode, dan subjek budaya tidak merujuk pada referensi dan realitas yang ada. Prinsip utama pada era ini adalah hukum struktural. Artinya tanda membentuk struktur dan memberi makna realitas. Di tingkat ketiga ini Baudrillard menyebutnya sebagai era simulasi.

Ketiga tingkat simulasi ini secara tersirat menggambarkan adanya proses penandaan atau semiologi. Dalam konteks ini berlaku relasi Semiologi Saussure penanda-petanda dengan ketiga tingkat simulacra tersebut.

Tingkat pertama simulacra tentang proses imitasi alamiah menggambarkan relasi langsung antara penanda-petanda. Tingkat kedua simulacra tentang proses produksi menggambar relasi tak langsung penanda-petanda, dan tingkat ketiga simulacra tentang proses struktural menggambarkan relasi tak langsung antara penanda-penanda tanpa petanda.

Analisis Baudrillard dalam hubungannya dengan masyarakat postmodern berada pada tingkat ketiga simulacra. Di tingkat ketiga simulacra tidak ada relasi antara penanda-petanda. Melainkan, yang ditemukan adalah relasi tak langsung antara penanda-petanda.

Relasi tak langsung antara penanda-petanda hadir sebagai konsekuensi logis kemajuan teknologi dan informasi. Maka, dalam kaitannya dengan objek konsumsi, barang (penanda) yang dikonsumsi bukan lagi untuk pemenuhan kebutuhan (petanda), sesuai dengan fungsi aslinya, melainkan dialihfungsikan untuk pemenuhan keinginan yang sifatnya semu.

Sifat hakiki dan kekhasan simulacra tingkat ketiga adalah penolakan terhadap realitas yang riil. Penolakan itu didasarkan pada kerja simulacra yang mengaburkan dan menghilangkan referensi asli atau realitas yang asli.

Simulakra mengedepankan yang imitasi sebagai sesuatu yang benar, maka yang tampak imitasi itulah kebenaran ontologis. Kenyataan ini kemudian mencerminkan diri sebagai salah satu budaya yang dihidupi oleh masyarakat postmodern. Akibatnya masyarakat hidup dalam dua dunia yakni antara yang asli atau imajiner, antara yang palsu dan yang asli.

Sebagai salah satu cerminan budaya postmodern, simulakra di tingkat ketiga diumpamakan oleh Baudrillard seperti sebuah peta. Realitasnya, peta adalah representasi dari sebuah wilayah, namun dalam simulasi yang terjadi adalah sebaliknya, wilayah mendahului peta.

Analogi ini berarti bahwa dalam simulasi, bukan realitas yang menjadi landasan/cerminan utama melainkan model-model yang ditawarkan media teknologi dan informasi. Model-model itu kemudian dianggap sebagai sesuatu yang nyata, sebagai dunia yang sungguh riil.

Simulasi dipandang Baudrillard sebagai sesuatu yang benar ada dalam realitas. Karena itu, dalam simulasi, masyarakat digiring pada realitas yang palsu yang disebut realitas semu (hyper-reality). Realitas seperti ini tercipta oleh jenis-jenis media yang dijadikan acuan referensi untuk masyarakat pada umumnya.

Dengan media, dunia imajinasi terbentuk dan disuguhkan oleh simulator dan pak akhirnya menggiring masyarakat pada suatu kesadaran palsu yang diciptakan oleh simulator tersebut. Keadaan seperti inilah yang dikatakan oleh Baudrillard sebagai ruang simulakra.

Dalam ruang simulakra, masyarakat ada dalam realitas tanpa otonomi yang jelas. Masyarakat hidup dalam suatu ruang fiksi yang faktual. Pada akhirnya, realitas-realitas simulakra menjadi landasan bagi masyarakat untuk merealisasikan dan mengaktualisasikan eksistensi dirinya.

Melalui model-model yang ditawarkan oleh media massa dan media elektronik, hal itu kemudian membangkitkan sekaligus membentuk kesadaran individu untuk mewujudkan jati diri dan eksistensinya. Sebab, ruang simulakra tidak saja berbicara tentang tanda dan simbol melainkan tentang kekuasaan dan hubungan sosial dalam masyarakat.

Karena medium simulakra berlangsung dalam teknologi, informasi, dan komunikasi, maka seringkali makna pesan yang ditampilkan oleh media massa jauh dari makna aslinya. Hal ini menyebabkan konstruksi budaya masa kini selalu ada dalam citra simulasi-simulasi.

Citra-citra simulasi tersebut pada akhirnya menciptakan suatu realitas baru yang tanpa historisitas kebenaran, suatu realitas yang berbeda dengan realitas yang riil. Realitas itu yang kemudian disebut oleh Baudrillard sebagai hiperrealitas.

Hiperrealitas

Diskursus pertama mengenai hiperrealitas dikemukakan oleh Marshall Mcluhan dalam bukunya The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962). Bukunya menguraikan, peralihan teknologi mekanik ke teknologi elektronik membawa perubahan fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia, dalam ruang menuju perpanjangan sistem saraf.

Pemikirannya berbasis pada proses dan akibat Revolusi Gutenberg dengan sebuah pernyataan bahwa medium is a message. Pernyataan itu membuka suatu asosiasi baru bahwa teknologi mekanik (percetakan) merujuk pada era modernitas dan teknologi elektronik merujuk pada era postmodernisme.

Bagi Mcluhan media elektronik dalam bentuknya yang paling mutakhir dan masif telah mereduksi kandungan pesan media itu sendiri dan menggantikannya dengan permainan bahasa tanda yang bersifat simbolik. Artinya, media dilihat sebagai perpanjangan badan manusia, namun tanpa pesan, makna, dan kedalaman.

Pesan itu sendiri tidak lebih dari media-media yang lain. Perkembangan media teknologi memungkinkan semua individu untuk hidup dalam suatu dunia, yang disebut dengan global village. Di sini segala sesuatu disebarluaskan, diinformasikan, dan dikonsumsi dalam dimensi ruang dan waktu tanpa batas.

Selanjutnya, implikasi dan konsekuensi logis dari adanya global village dikemukakan oleh Baudrillard. Implikasinya itu didasarkan pada beberapa asumsi hubungan manusia dan media yang disebutnya sebagai realitas media space.

Media space adalah realitas ruang maya yang tidak dipahami lagi sebagai perpanjangan badan manusia sebagaimana menurut Mcluhan, melainkan menurutnya, media telah menjadi ruang bagi manusia untuk membentuk identitas dan eksistensi dirinya.

Dengan pemikiran yang nihilistik, Baudrillard menarik garis pemikiran Mcluhan sampai batasnya yang paling terjauh yakni menganalisis konsep media sebagai perpanjangan badan manusia dan global village ke dalam konteks budaya masyarakat postmodern.

Analisisnya itu menghasilkan suatu tesis bahwa media sebagai perpanjangan tangan manusia dan global village telah menjelma menjadi apa yang ia sebut sebagai hipereal village atau hiperealitas. Gagasan hiperrealitas memiliki relasi dengan gagasan simulakra, yaitu sesuatu yang menggantikan realitas dengan representasi-representasinya.

Sebagaimana simulakra, asumsinya tentang hiperrealitas didasarkan pada perkembangan sistem teknologi dan informasi yang begitu mutakhir. Kemutakhiran sistem teknologi dan informasi membuat manusia menciptakan suatu realitas yang baru. Wujud dari realitas yang baru adalah hasil imitasi terhadap realitas yang riil.

Realitas yang baru dihadirkan melalui proses simulasi dan duplikasi terhadap fakta dan kenyataan dalam masyarakat. Pada akhirnya, model realitas yang baru disamakan dengan realitas asli sehingga seringkali dominasi realitas yang baru membuat masyarakat tidak mampu mengenal realitas yang asli.

Hiperrealitas menurut Baudrillard merupakan keadaan runtuhnya realitas, yang diambil alih oleh rekayasa model-model (citraan, halusinasi, dan simulasi), yang dianggap lebih nyata dari realitasnya asli, sehingga perbedaan antara keduanya menjadi kabur.

Maka, dalam hubungannya dengan semiologi, awal dari era hiperrealitas ditandai dengan lenyapnya petanda, yang diambil oleh duplikasi dari dunia fantasi. Akibatnya, penanda sudah tidak lagi merepresentasikan sesuatu karena petanda tidak lagi menampilkan makna yang hakiki. Karena itu, dalam media-media massa, penanda-penanda yang ditawarkan senantiasa diterima, diserap, dan dijadikan oleh masyarakat sebagai role model.

Implikasi Masyarakat Postmodern

Dalam kehidupan masyarakat postmodern, hiperrealitas membuat kehidupan masyarakat saling campur aduk, interaksi saling silang menyilang, tumpang tindih dan menciptakan situasi masyarakat konsumtif yang carut marut. Sebab, hiperealitas yang dihasilkan oleh teknologi telah mengalahkan realitas yang riil dan bahkan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat.

Dalam hiperrealitas, citra lebih dominan menyakinkan dibandingkan fakta, dan mimpi lebih diyakini daripada kenyataan sehari-hari. Hiperrealitas adalah realitas yang lebih nyata dari yang nyata, semu dan meledak-ledak. Dan bahkan hiperrealitas menjadi penentu bagi eksistensi masyarakat masa kini.     
 
Baudrillard mencontohkan model Disneyland yang ada di Amerika sebagai model hiperealitas yang paling sempurna. Disneyland merupakan representasi dari simulasi-simulasi yang sifatnya penuh ilusi dan fantasi. Disneyland sebagai model hiperealitas menarik masyarakat untuk merasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang sifatnya semu.

Di Disneyland dapat ditemukan keadaan yang silang-sengkarut, campur baur, tanpa ada batasan yang otonom. Karena itu, Disneyland adalah representasi dari dunia imitasi sebagai akibat langsung dari kemajuan globalisasi teknologi, informasi dan komunikasi yang tidak ada sebelumnya.

Sebagaimana Disneyland, bentuk lain hiperrealitas dapat ditemukan dalam beragam model yang ada di kehidupan masyarakat saat ini. Kemajuan sistem teknologi, informasi, dan komunikasi memungkinkan segalanya dapat menjadi hiperrealitas. Beragam media komunikasi virtual, iklan dalam berbagai shopping online atau e-commerce dapat membuat masyarakat melupakan realitas yang asli.

Tayangan iklan dalam berbagai shopping online, yang ditayangkan berulang-ulang sebenarnya jauh dari realitas yang sesungguhnya. Tayangan-tayangan itu akhirnya membentuk komunikasi masa dan itu diterima dan diakui sebagai realitas yang asli.

Sumber:
https://id.wikipedia.org
https://www-britannica-com
https://lsfdiscourse.org
dan sumber lain yang relevan

Download

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment